Tabuh Beduk Romadhon
TABUH BEDUK ROMADHON
Oleh Siti Robi’ah Alma
Guru MA Aswaja Ngunut Tulungagung
Saya lahir 57 tahun yang lalu dari keluwarga sederhana penjual buku-buku umum dan kitab pesantren serta mainan anak-anak musiman, mungkin inilah penyebab kekraban kami dengan keluwarga Pesantren karena melayani pelanggan kitab pesantren.
Ketika hari menjelang sore terdengan suara sayup-sayup kumandang adzan tanpa microphone dari Majid Al-Falah yang terletak didepan Pasar Rakyat Kawedanan Ngunut dimana orang tuaku menjajakan dagangannya, sore itu dari gerbang pasar terlihat orang-orang mulai meninggalkan pasar, sebagian orang keluar sembari membawa belanjaan dengan Anting (tas belanja), para kuli keluar masuk gerbang mengusung barang belanjaan dan menatanya di bak PC (mobil pengangkut mirip truk berukuran kecil berkap atas) barang itu milik tengkulak yang akan dijual di desa tempat tinggalnya, pasar rakyat Ngunut waktu itu merupakan pusat perbelanjaan di wilayah Ngunut dan Sekitarnya bahkan termasuk dari daerah pegunungan Pucanglaban.
Sementara itu Emak juga berkemas untuk segera meninggalkan toko, rumah kami tidak begitu jauh dari masjid, kami pulang berjalan kaki melewati depan masjid dimana dari arah sana terdengar alunan gema beduk dengan ritme indah seakan mengiringi langkah kami bak fashion show diatas catwalk, bedug ini jika dipukul pada akhir sya’ban menandakan kehadiran bulan yang penuh berkah yaitu bulan Romadhon.
Pukul bedug dilakukan diusai jamaah solat asar di masjid dan surau dekat rumah, beduk ditabuh dengan alunan dan ritme yang indah berfariasi yang disebut “TIDUR”, tidur adalah nama tabuhan kolaborasi beduk dan ketekan seperti terdengar “Terrek tok tek dung dung dung anak-anak waktu itu menirukan bunyi tidur itu dengan kalimat “Cah cilik godol medi” berulang-ulang sembari berjoget dan ketawa menadakan betapa bahagia menyambut datangnya bulan Romadlon yang penuh berkah dan ampunan.
Pukulan beduk dan ketekan indah dan asyik didengar apalagi kalau dimainkan orang yang piawei sungguh sajian nikmat jelang Romadlon, tradisi bunyi TIDUR itu selain menjelang malam tanggal satu bulan Romadlon juga pada usai solat tarwih dan waktu sahur sampai dengan imsak, kemudian juga malam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha yang mengiringi gema takbir.
Suasana lain yang tidak dapat aku lupakan adalah pujian pujian khas Romadlon menunggu imam jamaah solat isyak yaitu kalimat niyat puasa Romadlon yang dilantunkan dengan bahar towil dengan logat imalah jawa “Nawaitu souma ghoden an ada’ie fardli syahri Romadhona hadzihi sanatiii fardlo lillahe ta’ala” beserta terjemahan jawa “niyat ingsun poso romadon atutuko sedino sesuk anekani fardune wulan romadon krono nderek printahe Gusti Alloh’ pujian berulang-ulang sampai iqomah, pujian itu laksana ungkapan sambutan semaraknya amalan ibadah di bulan yang penuh berkah dan maghfiroh tergambar pada kegembiraan anak-anak, remaja dan dewasa dengan melantunkan pujian bersama-sama bak paduan suara.
Puji-pujian baik dengan kalimat niyat puasa,dzikir, solawat nabi dan syair nasihat sebagai tradisi Islam An-Nahdliyyah kini sudah jarang terdengar dari Langgar atau masjid dekat rumahku tergerus oleh zaman dan tergusur oleh kehadiran jamah yang merasa terganggu adanya puji-puji.
Di bulan romadlon diwajib berpuasa bagi orang mukalaf, namun perlu pelatihan sejak dini, entah kapan saya mulai berpuasa tidak begitu ingat, yang masih terekam kenangan puasa waktu kecilku memalukan bila dingat yaitu pada suatu ketika saya mengambil wudlu akan solat dluhur saat berkumur sebagian air sengaja tertelan, bahkan pernah suatu hari saya bermain bersama teman-teman kecilku di ladang milik tetangga berteduh di bawah pohon jambu, kami iseng mengambil jambu dan dimakan bersama-sama lalu kepergok pemilk pohon kami lari terbirit-birit sambil ketawa-ketawa, astaghfirulloh...dasar anak-anak tidak mengertikah bahwa puasa itu tidak boleh makan, atau waktu itu mungkin belum memahami definisi dosa.
Sore hari sembari menunggu adzan maghrib saya bersama tema sejawat terkadang bermain cakar uwok, bak sodor, kelereng, gateng dan lain lain di tetangga sebalah di teras rumah orang terkaya waktu itu, rumahnya indah, asri, sejuk, besar dan pemiliknya sabar..
Waktu isyak tiba, saya kecil bersiap pergi ke masjid, Masjid tempat pilihan solat tarweh dibanding Surau/Langgar, karena Masjid disamping ruangannya luas juga saya kecil tidak perlu menyeberang jalan raya yang cukup padat lalu lintas dan butuh bantuan orang lain untuk menyeberangkan, walau jarak masjid sedikit lebih jauh dibanding ke Langgar yang ada diseberang jalan rumaku, waktu itu saya pergi ke masjib tidak hanya membawa peralatan solat tapi juga jajanan ta’jil, disaat jamaah solat isya’ saya mengikutinya dengan tertib walau kadang menahan ketawa atas godaan teman, usai isya’ dilanjutkan solat tarweh, solat tarwih yang begitu banyak rokaatnya saya hitung dengan benang sajadah, kadang berhenti tidak ikut rokaat berikut sambil memakan ta’jilan sampai imam salam pada rokaat yang saya tinggal lalu ikut lagi, terkadang sesekali berhenti lagi sambil tiduran, terkadang juga mengintip jamaah laki-laki yang sedang solat, apa lagi disana ada guru ngaji saya dan teman-teman sebaya, guru yang mondok di PP MHM, kami mengintip agar beliau mengetahui kami bahwa kami juga solat di masjid ini, juga pertanda kami bangga mempunyai guru ngaji yang juga tarweh dimasjid yang sama seakan menjadi motivasi kami untuk rajin mengikuti solat jamaah.
Usai tarweh saya harus segera pulang walau sebenarnya ingin melihat Pukul Bedug (tidur) tetapi Emak mengajak pulang karena seampai di rumah setelah istirahat sebentar saya diharuskan mengaji (membaca Al-Qur’an Juz Amma), usai mengaji kadang menunggui Emak dan beberapa orang yang tadarrus dirumahku tempat dimana biasanya mereka belajar mengaji.
Malam makin larut sayapun tertidur dimana saya mau, saat waktu sahur tiba saya dibangunkan oleh Bapak terdengar Tabuh Beduk Tidur dari langgar sebelah. Setiap bangun tidur Abah melarang saya untuk memegang peralatan makan sebelum cuci tangan bahkan cuci muka, ternyatadawuh beliau itu sebagaimana hadits Abu Hurooroh yang dirwayatkan oleh Imam Bukhori (162) dan Imam Muslim (278)
ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذااستيقظ احدكم من نومه فلا يغمس يده في الإناء حتى يغسلها ثلاثا فإنه لايدرى اين باتت يده
Bahwa Rosululloh saw bersabda : Apabila salah seorang dari kalian bangun tidur, jangan memcelupkan tangannya ke bejana sehingga dia mencuci tangannya sebanyak tiga kali karena dia tidak tahu dimana tangannya menginap (bermalam).
sayapun mentaati perintah beliau sehingga sampai sekarang menjadi pembiasaan bahwa setiap bangun tidur saya tidak akan makan atau menyentuh peralatan makan sebelum cuci tangan atau berwudlu.
Demikian kisah Romadhon kecilku, ibadah romadhon saat usia dini sangat penting sebagi tarbiyah agar terbisa ketika umur semakin bertambah. Semoga ibadah dan puasa romadhon kali ini terhindar dari hal-hal yang membatalkan essensi puasa dan diridloi Alloh subhanahu wata’ala..
Tulungagung, 19 Mei 2020
Oleh Siti Robi’ah Alma
Guru MA Aswaja Ngunut Tulungagung
Saya lahir 57 tahun yang lalu dari keluwarga sederhana penjual buku-buku umum dan kitab pesantren serta mainan anak-anak musiman, mungkin inilah penyebab kekraban kami dengan keluwarga Pesantren karena melayani pelanggan kitab pesantren.
Ketika hari menjelang sore terdengan suara sayup-sayup kumandang adzan tanpa microphone dari Majid Al-Falah yang terletak didepan Pasar Rakyat Kawedanan Ngunut dimana orang tuaku menjajakan dagangannya, sore itu dari gerbang pasar terlihat orang-orang mulai meninggalkan pasar, sebagian orang keluar sembari membawa belanjaan dengan Anting (tas belanja), para kuli keluar masuk gerbang mengusung barang belanjaan dan menatanya di bak PC (mobil pengangkut mirip truk berukuran kecil berkap atas) barang itu milik tengkulak yang akan dijual di desa tempat tinggalnya, pasar rakyat Ngunut waktu itu merupakan pusat perbelanjaan di wilayah Ngunut dan Sekitarnya bahkan termasuk dari daerah pegunungan Pucanglaban.
Sementara itu Emak juga berkemas untuk segera meninggalkan toko, rumah kami tidak begitu jauh dari masjid, kami pulang berjalan kaki melewati depan masjid dimana dari arah sana terdengar alunan gema beduk dengan ritme indah seakan mengiringi langkah kami bak fashion show diatas catwalk, bedug ini jika dipukul pada akhir sya’ban menandakan kehadiran bulan yang penuh berkah yaitu bulan Romadhon.
Pukul bedug dilakukan diusai jamaah solat asar di masjid dan surau dekat rumah, beduk ditabuh dengan alunan dan ritme yang indah berfariasi yang disebut “TIDUR”, tidur adalah nama tabuhan kolaborasi beduk dan ketekan seperti terdengar “Terrek tok tek dung dung dung anak-anak waktu itu menirukan bunyi tidur itu dengan kalimat “Cah cilik godol medi” berulang-ulang sembari berjoget dan ketawa menadakan betapa bahagia menyambut datangnya bulan Romadlon yang penuh berkah dan ampunan.
Pukulan beduk dan ketekan indah dan asyik didengar apalagi kalau dimainkan orang yang piawei sungguh sajian nikmat jelang Romadlon, tradisi bunyi TIDUR itu selain menjelang malam tanggal satu bulan Romadlon juga pada usai solat tarwih dan waktu sahur sampai dengan imsak, kemudian juga malam hari raya Idul Fitri dan Idul Adha yang mengiringi gema takbir.
Suasana lain yang tidak dapat aku lupakan adalah pujian pujian khas Romadlon menunggu imam jamaah solat isyak yaitu kalimat niyat puasa Romadlon yang dilantunkan dengan bahar towil dengan logat imalah jawa “Nawaitu souma ghoden an ada’ie fardli syahri Romadhona hadzihi sanatiii fardlo lillahe ta’ala” beserta terjemahan jawa “niyat ingsun poso romadon atutuko sedino sesuk anekani fardune wulan romadon krono nderek printahe Gusti Alloh’ pujian berulang-ulang sampai iqomah, pujian itu laksana ungkapan sambutan semaraknya amalan ibadah di bulan yang penuh berkah dan maghfiroh tergambar pada kegembiraan anak-anak, remaja dan dewasa dengan melantunkan pujian bersama-sama bak paduan suara.
Puji-pujian baik dengan kalimat niyat puasa,dzikir, solawat nabi dan syair nasihat sebagai tradisi Islam An-Nahdliyyah kini sudah jarang terdengar dari Langgar atau masjid dekat rumahku tergerus oleh zaman dan tergusur oleh kehadiran jamah yang merasa terganggu adanya puji-puji.
Di bulan romadlon diwajib berpuasa bagi orang mukalaf, namun perlu pelatihan sejak dini, entah kapan saya mulai berpuasa tidak begitu ingat, yang masih terekam kenangan puasa waktu kecilku memalukan bila dingat yaitu pada suatu ketika saya mengambil wudlu akan solat dluhur saat berkumur sebagian air sengaja tertelan, bahkan pernah suatu hari saya bermain bersama teman-teman kecilku di ladang milik tetangga berteduh di bawah pohon jambu, kami iseng mengambil jambu dan dimakan bersama-sama lalu kepergok pemilk pohon kami lari terbirit-birit sambil ketawa-ketawa, astaghfirulloh...dasar anak-anak tidak mengertikah bahwa puasa itu tidak boleh makan, atau waktu itu mungkin belum memahami definisi dosa.
Sore hari sembari menunggu adzan maghrib saya bersama tema sejawat terkadang bermain cakar uwok, bak sodor, kelereng, gateng dan lain lain di tetangga sebalah di teras rumah orang terkaya waktu itu, rumahnya indah, asri, sejuk, besar dan pemiliknya sabar..
Waktu isyak tiba, saya kecil bersiap pergi ke masjid, Masjid tempat pilihan solat tarweh dibanding Surau/Langgar, karena Masjid disamping ruangannya luas juga saya kecil tidak perlu menyeberang jalan raya yang cukup padat lalu lintas dan butuh bantuan orang lain untuk menyeberangkan, walau jarak masjid sedikit lebih jauh dibanding ke Langgar yang ada diseberang jalan rumaku, waktu itu saya pergi ke masjib tidak hanya membawa peralatan solat tapi juga jajanan ta’jil, disaat jamaah solat isya’ saya mengikutinya dengan tertib walau kadang menahan ketawa atas godaan teman, usai isya’ dilanjutkan solat tarweh, solat tarwih yang begitu banyak rokaatnya saya hitung dengan benang sajadah, kadang berhenti tidak ikut rokaat berikut sambil memakan ta’jilan sampai imam salam pada rokaat yang saya tinggal lalu ikut lagi, terkadang sesekali berhenti lagi sambil tiduran, terkadang juga mengintip jamaah laki-laki yang sedang solat, apa lagi disana ada guru ngaji saya dan teman-teman sebaya, guru yang mondok di PP MHM, kami mengintip agar beliau mengetahui kami bahwa kami juga solat di masjid ini, juga pertanda kami bangga mempunyai guru ngaji yang juga tarweh dimasjid yang sama seakan menjadi motivasi kami untuk rajin mengikuti solat jamaah.
Usai tarweh saya harus segera pulang walau sebenarnya ingin melihat Pukul Bedug (tidur) tetapi Emak mengajak pulang karena seampai di rumah setelah istirahat sebentar saya diharuskan mengaji (membaca Al-Qur’an Juz Amma), usai mengaji kadang menunggui Emak dan beberapa orang yang tadarrus dirumahku tempat dimana biasanya mereka belajar mengaji.
Malam makin larut sayapun tertidur dimana saya mau, saat waktu sahur tiba saya dibangunkan oleh Bapak terdengar Tabuh Beduk Tidur dari langgar sebelah. Setiap bangun tidur Abah melarang saya untuk memegang peralatan makan sebelum cuci tangan bahkan cuci muka, ternyatadawuh beliau itu sebagaimana hadits Abu Hurooroh yang dirwayatkan oleh Imam Bukhori (162) dan Imam Muslim (278)
ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : إذااستيقظ احدكم من نومه فلا يغمس يده في الإناء حتى يغسلها ثلاثا فإنه لايدرى اين باتت يده
Bahwa Rosululloh saw bersabda : Apabila salah seorang dari kalian bangun tidur, jangan memcelupkan tangannya ke bejana sehingga dia mencuci tangannya sebanyak tiga kali karena dia tidak tahu dimana tangannya menginap (bermalam).
sayapun mentaati perintah beliau sehingga sampai sekarang menjadi pembiasaan bahwa setiap bangun tidur saya tidak akan makan atau menyentuh peralatan makan sebelum cuci tangan atau berwudlu.
Demikian kisah Romadhon kecilku, ibadah romadhon saat usia dini sangat penting sebagi tarbiyah agar terbisa ketika umur semakin bertambah. Semoga ibadah dan puasa romadhon kali ini terhindar dari hal-hal yang membatalkan essensi puasa dan diridloi Alloh subhanahu wata’ala..
Tulungagung, 19 Mei 2020
Komentar
Posting Komentar