CATATAN HARIAN BELAJAR MENULIS

 

CATATAN HARIAN BELAJAR MENULIS

(Awal Belajar Menulisku Membuat “Puisi”)


Judul ini kiranya yang sebenarnya yang ingin saya tampilkan diblog saya lalu, karena isu menulis saat itu bertemakan “BLENDRANG” maka saya latah menggunakan judul “Blendrang Leterasi”  karena coret-coretan saya ini sudah beberapa minggu bahkan mungkin bulan belum diunggah dan diam ditempat masakan namun hanya dibiarkan tanpa dienget (dipanasi) sehingga bisa jadi Blendrang Basi ( he he )

 

Baik, saya lanjutkan catatan harian terkait belajar menulis sebagaimana judul di atas.

Teori dasar  menulis dipelajari  sejak SD tentunya, yaa menulis melalui tugas mengarang sederhana sesuai usia misalnya mengarang cerita “berkunjung ke rumah Nenek”,  kemudian di tingkat SLTA dimana saya sekolah di MAN Denanyar Jombag Jurusan Bahasa teori menulis lebih fokus dibahas saat itu saya lebih menyukai menulis puisi dari pada karangan (opini), usahaku mencoba menulis ini terinspirasi dari teman saya yang sering menulis ungkapan suka duka hati baik berbentuk puisi, prosa dalam surat persahabatan seakan ditujukan pada seseorang, (teman tersebut sejak lulus MAN aktif didunia kewartawanan).

hasil tulisan saya dan teman ditempel di Majalah dinding Madrasah, dan  tidak semua tulisan ditempelkan di Mading, namun setelah diseleksi, diantaranya  dikirim  oleh teman pengurus IKAPMAM (Ikatan Pelajar Mambaul Ma’arif)    ke Radio FM Jombang yang ngetren saat itu (saya lupa namanya), yaitu radio yang salah satunya memiliki program “Nada dalam Kata” pembacaan puisi dan surat-surat cinta, kwik kwik...,  motivasi terbesar adalah ketika puisi atau surat dibacakan sang penyiar radio, kami berbalas tulisan berbentuk puisi atau surat cinta antar  teman santri laki dan perempuan melalui mading sekolah dan radio, maka bisa dikatakan sejak saat itu saya memulai belajar menulis.

 

Memutar atau mendengarkan radio merupakan hiburan anak-anak pondok  saat jam istirahat malam sebagai pengantar tidur,  chenel paling ngehits adalah Sandiwara Radio dan Nada dalam kata, dua program ini sangat diminati mbak-mbak dan Kang santri pada saat itu.

 

Hal yang sangat menghibur mbak-mbak santri jika tulisan yang dikirim dibacakan sang penyiar radio, pada suatu malam karya puisi saya dibaca di radio itu, wajah-wajah sumringah seakan melupakan rasa rindu keluarga nun jauh disana, suara sorak sorai gaduh melenyapkan rasa kantuk dan penat setelah sarat kegiatan pondok.

 

pada malam yang lain sebagaimana biasa sembari persiapan diri dengan bantal dan selimut ala kadarnya, telinga-telinga siaga menunggu radio teman seasrama siap memperdengarkan acara vavorit, sampailah sang penyiar radio membacakan  puisi dari Putra Kota lahar (Blitar) teruntuk Gadis Kartika dari kota Banjir, gadis kartika yang dimaksud adalah saya, saya memang satu-satunya santri dari Tulungagung (kota banjir) saat itu,  sepontan gelak tawa  mbak-mbak santri Asrama  membuat kegaduhan bak paduan suara mengikuti ritme notasi.


Karena hingar bingar kegaduhan santri berbaur dengan suara radio hingga ditegur oleh Ibuk (panggilan akrab kepada Ibu Nyai Muhassonah Iskandar ibunda Muhaimin Iskandar) beliau melongok ke Asrama kami, dan ngendikan dengan nada keibuannya yang lembut penuh kasih sayang tanpa tanda marah, namun berwibawa, sungguh luar biasa kepribadian Ibu Nyai ini, dikira kami akan dimarahi karena kegaduhan kami mengganggu istirahat beliau yang ndalemnya dengan asrama yang kami tempati hanya tersekat dinding, seraya suasana menjadi sepi  kami menyembunyikan sisa tawa tertahan dibalik bantal bahkan ada temanyang pura-pura tidur. Ibuk hanya memberi nasihat : “ojok get-get rek lek ngguyu” (jangan terlalu keras ketawanya Reek) wis gek ndang bubuk cik gak telat jama’ah subuh (sudahilah, dan segera tidur agar tidak terlambat jama’ah subuhnya), sepontan kami merespon “Inggih Buuuk..”

 

Berikut salah satu puisi saya walau sangat sederhana namun sebagai legenda Santri pendiam menghanyutkan (kwik kwik), puisi ini saya temukan  terselip  kitab hadits Tajriidussorih salah satu mata pelajaran kurikuler saat itu.

SELENDANG HITAM PUTIH

.......................

(besuk yaaa Puisinya...he he)



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

القلم

USWATUN HASANAH ANJING