THOLABUL ILMI TANPA LINI MASA

Sekelumit Kisah Masuk Kelas Hebat
(Siti Robi'ah Alma) 

Nawaitu menjadi penulis sejak lama, menulis apa saja fiksi atau non fiksi, saya yakin dengan menulis ilmu yang didapat selama tholabul ilmi tak akan  aus bahkan bertambah, hasil tulisan bermanfaat buat orang lain atau tidak bukan halangan niat menulis, dengan menulis berharap mencegah kepikunan yang menjadi momok setiap orang yang sudah renta.

Maka, keika ada peluang seperti undangan work shop dan semacamnya tentang kepenulisan, saya berusaha menghadiri jika undangan itu bersifat untuk umum, namun ketika undangan itu terbatas dan harus mendapat rekomendasi dari Kepala Sekolah  saya harus menuai kekecewaan dalam hati karena  jika saya belum berkesempatan mengikutinya, ketika undangan itu bebas maka saya sebisanya meminta izin untuk mengikutinya.

Alhamdulillah salah satu hikmah pandemi covid 19 dengan stay at home dan hikmah banyak grup di sosial media mendapat peluang luas untuk tholabul ilmi apa saja tanpa meninggalkan rumah sambil daring dengan siswa, daring dengan santri TPQ, momong cucu,  dan mendampingi sang suami bahkan disela-sela pekerjaan rumah yang seambrek takkan pernah usai.

Nawaitu menulis diawali ketika bergabung dengan Facebook mas Dr. Ainun Naim yang ternyata beliau sealumni di PP. Mambaul Ma’arif Denanyar Jombang, bangga dengan adik kelas ini saya harus mengikuti jejaknya kata hatiku waktu itu, namun entah saya kurang tertarik dengan facebook karena kurang mempunyai waktu membukanya dan sharing-sharing kontroversi sering masuk di akun saya sehingga facebook sy biarkan dan terhack serta saya kehilangan jejak Pak Doktor Ngainun Naim Sang Motivator hebat he he

Pada masa pandemi saya menyempatkan membaca sebagian hasil karya teman-teman di grup UINM seperti Prof Abdul Haris yang gemar menulis puisi, Suyanto AlFarabi AS penulis berisi nasehat/dakwah, dan senior seperti Prof Halimi Zuhdi dan  Prof Kaswi Syaiban, Yunior Abdul Aziz  motivator agar meneguhkan tradisi baca melalui jargonnya “ kualitas pengetahuan seseorang ditentukan oleh intensitasnya dalam membaca” dengan mengunggah banyak e-Newspaper harian nasonal , KOMPAS, Jawa Post, Media Indonesia, The Jakarta Post, Warta Kota, Suara Merdeka, Bisnis Indonesia, investor Daily, Tribun JOGJA, Radar Jogja, Solo Post, Banjarmasin Post dan Kontan, sekian banyak e-newspaper hanya sekali saya sentuh satu media saja membuat mata pedas dan android overload.

Dengan membaca karya tersebut yang kadang karya tulisnya sederhana mudah dicerna kadang juga bahasa ilmiyah tingkat tinggi sangat produktif menginspirasi diri saya untuk memulai mengikuti jejaknya menjadi penulis, maka saya terus memicu kemauan untuk tersalurkan biarpun berbentuk tulisan walaupun dengan paragrap sangat sederhana, mulailah saya mencoba menulis paragraf dari issu pandemi covid 19  tentang “TPQ Home Learning” sebagai tulisan perdana.

Saya harus tholabul ilmi tentang kepenulisan, maka ketika teman di grup IKA-UIN Malang sharing ajakan bergabung Kelas “90 Hari Menulis Buku” yang diasuh oleh Dr. N. Faqih Syarif, M.Si penulis buku  Gizi Spiritual saya masuk di kelas itu agar termotivasi bisa membuat karya tulis minimal artikel, namun di kelas ini motivasinya membuat buku, “pokok nulis” sebaiknya sesuai profesi, boleh fiksi, non fiksi atau faksi, kata sang motivator, disini saya merasa berat tertantang, akhirnya saya bukan menghasilkan tapi menyetorkan sebuah buku yang tersusun tahun 2009 kemudian saya permak menjadi tahun 2020, buku sederhana dari kegiatan tindakan kelas saya di TPQ  Al-Falah yang menggunakan metode An-Nahdliyah dan kegiatan  tindakan kelas di MA Aswaja sebagai guru Bahasa Arab dan Al-qur’an Hadits yaitu buku yang saya beri nama AL-QOLAM  “Cara Cepat Belajar Menulis Arab Al-Qur’an”, semoga buku non Elektrik ini tidak kadaluarsa seiring  perkembagan IT dan  saya berkeinginan  menjadikan e-book.

Kelas menulis di atas belum selesei saya mendapatkan link bergabung di Kelas Hebat  “Ma’arif Menulis” dari grup PERGUNU, diri ini seakan berlonjak kegirangan hatiku bernyanyi ini rumah kita, rumah kita sendiri, untuk kita, dengan Sang Motivator Sang Maha Guru Dr. Ngainun Naim penulis berbagai buku, dan senior-senior handal para Kepala Sekolah serta tokoh-tokoh pimpinan LP Ma’arif NU.

Awalnya  masuk kelas ini saya malu dengan diri sendiri  saya hanya guru biasa guru TPQ, pendidikan S-1, namun niyat awal ingin bisa menulis maka kini menjadi malu jika tidak menulis (he he..) Saya sekolah disini  harus istiqomah.

Semoga berkah  kelas “Ma’arif Menulis” ini dan support para motivator di kelas ini nawaitu menulis terus aktif dan berkembang serta mampu menyisihkan waktu untuk menulis meskipun kegitan sekolah pagi sampai dengan malam sudah aktif. Aamiin... 

Komentar

  1. Ternyata Bunda ini banyak berpengalaman yg bisa ditulis, hanya butuh waktu dan kesempatan saja...

    BalasHapus
  2. Kisah motivasi diri yang sangat bagus

    BalasHapus
  3. Alhamdulilah...
    Semangat teruz..

    BalasHapus
  4. Mantab Bu... Dan menginspirasi...

    BalasHapus
  5. Terima kasih semua yg sdh berkunjung dan komen, Insya Alloh gizi asemangat buat tulisan berikut

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah, dengan sedikit sentuhan dari DR. Ngainun Naim, Bu Robiah sudah lancar menulis..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

القلم

USWATUN HASANAH ANJING