MENGOLAH ENERGI POSITIF
Mengolah Energi Positif
(Menerjemahkan ICON MA Aswaja)
Pagi itu awal para guru memasuki area MA Aswaja Ngunut setelah WFH dan libur seputar hari raya Idul Fitri, tepatnya tanggal 2 Juni 2020, hasil musyawaroh via whathsupp grup para guru khususnya pengurus sekolah Kepala, Waka, Wali Kelas dan TU sepakat masuk Madrasah dengan agenda persiapan PAT yang dimulai tanggal 4 Juni 2020 bersamaan dengan itu kami mengikuti webinar DPD PGMI Kurikulum Darurat Covid 19 bersama dalam satu ruangan menggunakan LCD Proyektor.
Ketika akan memasuki pintu gerbang Madrasah Para Guru melihat name board yang bertuliskan “MA ASWAJA Ngunut, Mendidik dengan Hati”, name board itu buah usapan jemari lembut Qomar El-Khoth, ini bukan sekedar tulisan kaligrafi atau semacam ICON tanpa makna, proses penulisanyapun dengan iringan do’a dan munajat sehingga menjadi indah dipandang dan penuh makna, dan kronologi panjang sehingga tercipta ICON dari kata mutiara tersebut.
Sebuah idiom kata mutiara bisa jadi dimaknai berbeda dari makna yang dikehendaki penciptanya, untuk itu saya mancoba menguraikan maksud “Mendidik dengan Hati” yang menjadi ICON Madrasah ini. ICON “Mendidik dengan Hati” terinpirasi dari Akhlaq Rosululloh Muhammad saw yang dijelaskan oleh Alloh swt dalam firmanNya : Q.S 3 : Ali Imron Ayat 159
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.
Mendidik adalah berdakwah, guru sebagai pendidik otomatis juga sebagai Muda’i, tugas muda’i adalah amar ma’ruf nahi mungkar dengan berbagai cara atau metode yang disesuaikan dengan sasaran dakwah, metode dakwah Islam yang diajarka Rosululloh saw adalah 1) Bil Hikmah, 2) Bil Mauidhoh dan 3) Bil Mujadalah (Q.S 16 : An-Nahl Ayat 125)
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Sasaran dakwah/pendidikan di Madrasah ini adalah semua pribadi civitas akademika terutama diri pendidik dan peserta didik, peserta didik yang memiliki beragam latar belakang dan hadir dengan karakter yang beragam pula memerlukan strategi dakwah yang flesibel.
Maka mengacu Q.S Ali Imron 125 dan An- Nahl 125 mengajarkan mindset para pendidik untuk mengubah energi negatif menjadi energi positif, yang tekadang keras menjadi lemah lembut, pemaaf, memohonkan ampun, bermusyawaroh segala masalah yang dihadapi dan jika semua sulit bersinergi positif maka penguatan tawakkal kepada Alloh swt sebagai penjaga selamat dari energi negatif, disinilah makna luas yang dimaksud yang berhubungan dengan hati.
Pendidiikan Madrasah mengacu pada Prinsip dasar etika Pendidik sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, - dengan harapan semoga para pendidik mendapat barokah dan tetesan ilmu dari beliau Rosululloh saw, - dapat diargumentasikan sebagai berikut :
- Pendidik/Giru memposisikan diri sebagaisahabat akan menumbuhkan jiwa yang positif pada peserta didik, Nabi Muhammad adalah Maha Guru dari maha guru, tidak pernah memposisikan diri beliau sebagai atasan atau guru bagi murid beliau.
- Belaku lemah lembut, menyampaikan ilmu, mengajak berbuat baika dan menyeleseikan masalah dengan sabar akan mengalirkan energi positif pada jiwa peserta didik. Kesombongan, keangkuhan dan kekejaman Fir’aun dihadapi dengan lemah lembut oleg Sang Istri Asyah binti Mujahim.
- Tidak membalas caci-makian, Nabi Muhammbad saw tak pernah membalas caci- maki dan hinaan kaumnya.
- Menyimak perkataan lawan bicara, prndidkan pada hakekatnya proses interaksi dua arah anatara pendidik dan peserta didik, suatu dialog bukan monolog, maka sayogyanya seorang pendidik atau pemangku kebijakan melakukan hal ini agar mampu menangkap energi positif dari lawab bicara serta argumennya.
- Materi yang disampaikan sesuai dengan intake.
- Memudahkan tidak menyulitkan,
- Bertahap dalam mengajarkan kebaikan dan mencegah kemunkaran,
- Menggunakan sapaan yang baik,
- Tidak mempermalukan
- Menggunakan bahasa tubuh yang baik
- Tidak mencari-cari ekesalahan
- Menyeleseikan permasalahan dengan bermusyawaroh bukan berdebat kusir
- Memberi contoh atau mengajak berkata yang baik dan santun.
Tak ada gading yang tak retak tak ada manusia sempurna, tak ada manusia yang tak punya kelemahan , kesalahan, namun kitidak sempurnaan pendidik ada celah energi positif yang dapat diolah agar pendidikan mampu menyelamatkan anak bangsa untuk mengantarkan menjadi manusia yang berkarakter baik, yg memghiasi dirinya dalam berkarya, bertindak beramal dan beribadah

Sae bu,. Ngaten koq cirose namung semonten.. hehehe
BalasHapusHe he mbahnuwun motivasinipun
Hapus