CERPEN ---SECANGKIR KOPI CINTA ---

 

SECANGKIR KOPI CINTA  1



Langit indah berwarna jingga terterpa fajar mulai menyingsing,  mbun pagi masih membasahi rerumputan halaman Madrasah , sampah kertas  sisa mainan pesawat anak-anak berserakan  berbaur dengan  plastik  bekas pembungkus permen, kalaupun  tidak banyak  namun merusak indahnya pemandangan, menodai kerapian, hal ini  paling tidak disukai Kang Yai Mod yang mempunyai nama asli Abu Atho’illah, Kang Yai Mod adalah sapaan akrab dari sahabatnya , beliau disamping sebagai perangkat desa juga pengelola lembaga pendidikan islam  yang gedungnya menyatu dengan pekarangan rumahnya. Madrasah ini tidak mempunyai petugas husus cleaning servis.

Pagi itu seusai aktifitas ba’da subuh  merupakan  kegiatan rutin sebelum berangkat kekantor Kang Yai Mod menyapu lingkungan rumah dan halaman madrasah, jika tersisa waktu akan mengerjakan pekerjaan lain, kali ini usai menyapu Kang Yai Mod merapikan bambu-bambu penyangga pengecoran ruang kelas yang terletak persis diatas halaman belakang dapur rumahnya.

Sementara Bu Mod asyik didapur menyiapkan sarapan pagi setelah membuat kopi untuk suaminya dan untuk dirinya sendiri, ya, kopi  memang bagian rutinitas pagi keluarga ini, cukup secangkir kopi sehari untuk masing-masing.

Sambil bersenandung Bu Mod terlihat agak nyantai menyeleseikan masakan, saat matanya tertuju ke secangkir kopi masih utuh Bu Mod melongok ke belakang dapur dan menyeru  Kang Yai Mod setengah berteriak “Kang, kopinya kog belum disentuh sih...tumben...keburu dingin loo..., “Haii..1, iya, iya... sebentar selesei, ini kurang dikit” jawab Kang Yai Mod senbari membetulkan letak tangga untuk panjatan melepas kayu plang. “welah...mau penekan (memanjat), boyok...boyok...” Bu  Mod mengingatkan karena hampir satu bulan pinggangnya sakit kejethit dan nyaris cuti kerja.

“Kopinya Kang.., kopi Mumtaz lo.., Kopi Cintaa... ha ha ha” kata Bu Mud berkelakar, kata CINTA pun diucapkan dengan SYINTSA kayak mas Tukul he he.

Kang Mod belum juga menyentuh koinya, malah memindah letak tangga  untuk dipanjat lagi.

“ Ah. Kang..kog tidak penasaran dengan kopi cinta sih? Masa gak ingat kopi cita yang pernah kubuat dulu?” “Baru enakan badan sedikit sudah gak sabaran pingin ngrapiin ini itu, mbok ya biar  dirapikan Kang Fatih tukang kemarin aja, dari pada sakit lagi hmmm...” himbau  Bu Mod.

Tipikel Kang Yai Mod orang  tidak mau diam, rajin, dan tidak telaten menunggu kerja orang lain, kalau bisa seakan smua kerjaan dikerjakan sendiri.

Bu Mod kembali berdendang sambil mengolak ngalik gorengan diatas tungku, tiba-tiba terdengar suara panggilan lantang  Kang Yai Mod “Buuuk... Cintanya merana..” “ iya apa?..” sahut Bu Mod yang kurang dengar, Bu Mod mendekat bertanya “ada apa Kang...?” “Cintanya merana...” kata Kang Mod. “merana...kini aku merana... kekasih tercinta  entah kemana...sendiri kini dibalut sepii...tiada tempat tuk tercurah lagi...”ha ha ha” Bu Mod menyanyikan penggalan lagu –Bunga- by Thomas Arya lalu terkekeh.

“Kenapa cintanya merana Kang?..” tanya Bu Mod. “ini kopi cintanya merana, pingin ditemani” kata Kang Mod.. “kamsudnya....?” tanya Bu Mod mengejek.. “minta ditemani....”  Kang Mod belum selesei bicara Bu Mod memenggal “ gablog goreng...?” mengerti apa yang dimau kesukaannya gablog goreng teman ngopi pikir Bu Mod. “bukan...” “itu lo yang putih-putih dikasi kulupan dan sambal... Punten” kata Kang Mod... “iich.... kirain apa, Okey, siap” kata Bu Mod, dengan sigap mengenakan hijab yang sudah tersedia disampiran  bambu belakang dapur yang sengaja disediakan agar setaiap saat diperlukan hijab dapat dipakai tanpa mencari-cari di kamar.

Bu Mod bergegas menstater motor dan cuzzz berangkat “ntar kalau habis gimana..?” ucap Bu Mod sambil menjalankan motornya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

القلم

USWATUN HASANAH ANJING