SERIAL KISAH
New Normal vs Upnormal
Pagi itu sy sibuk berkutat dg home work, tiba-tiba seseorang lewat pintu belakang nyelonong masuk tanpa uluk salam dulu,buru2 saya mengenakan hijab yang saya letakkan dekat dapur sengaja saya siapkan jika tiba-tiba ada ajnabi dari pintu belakang, memang pintu belakang selalu terbuka, maka bagi yang sdh terbiasa bertamu dirumah ini langsung ke belakang, karena jika pintu depan ditutup tamu mencari ke belakang dimana pintu itu menuju tempat dimana saya berkutat dengan tetekbengek sebagai tanda kehidupan.
Orang itu tanpa permisi langsung duduk dilincak depan pintu belakang rumah sembari menyapa tuan rumah dg suara lantang membuat saya dan Suwami terkejut, nampaknya suwami akrab denganya, meraka (suwami dan dia) berbincang pertama menanyakan kabar masing-masing, kemudian si tamu menanyakan kronologi terjadinya kecelakaan yang mengakibatkan korban wafat.
Sitamu datang rupanya sengaja ingin mendengarkan cerita tersebut dr swami saya yg baru saja melaksanakan pemulasaraan jenazah korban, kebetulan suwami saya modin di desa ini, sehingga dianggap tahu,
beliaupun bercerita sebagaimana yg didengar dari keluwarga korban, karena memang tidak tahu persis.
Titik cerita sitamu menganalisa terjadinya kecelakaan dia berkata bahwa keadaan nampaknya sudah mulai normal dari pandemi covid 19, terlihat jalan sudah ramai, kecelakaan pun terjadi bertubi" Swamiku hanya diam mendengarkan bicaranya sesekali mengiyakan sambil senyum-senyum saja, selesei cerita tentang kecelakakan kemudian membincangkan hal lain terkait ternak, tak seberapa lama sitamu pamit, saya yg setengah menguping perbincangan tadi saya tegur suwami husus tentang kata kata sudah normal tadi, sy matur ke suwami "lo Mas, harusnya panjenengan menjelaskan apa itu new normal, dia lo menganggap normal dalam kata new normal itu pandemi covid ini sudah normal, sitamu juga tidak menggunakan protokol kesehatan, tidak bermasker dan juga tidak jaga jarak, panjenengan kan tokoh masyarakat.., swamiku menjawab sambil tertawa kecil "orang upnormal dijelaskanpun mana paham yang ada nanti diimbangi nglantur bicaranya", o ya ? kataku heran, memang saya tidak begitu banyak mengenal orang-orang masyarakat desa ini terutama kaum adam karena saya termasuk penduduk baru, lalu saya lanjut berkata "ya bagaimanapun itu harusnya dijelaskan anggap saja menjelaskan pada anak kecil yg seperti blm bisa memahami maksud pemicaraan orang dewasa, tapi memorinya menyimpan pemahaman atau lambat laun paham.
Menunjukkan yang benar adalah kewajiban setiap mukallaf yang mengerti hukum dan perbuatan yang seharusnya dilaksanakan setiap insan, yakni disini seharusnya menjelaskan apa maksud new normal kepada siapapun yang sekiranya belum paham bahkan salah paham sehingga new normal dianggap normal seakan pandemi covid 19 itu suatu hal yang biasa bahkan sudah tidak ada, atau orang yang tidak peduli aliyas menyepelekan protokol kesehatan, karena merasa bahwa mereka sehat walau dizona merah.
Orang-orang yg demikian itu sering ditemui di desa dimana saya ikut suwami karena mungkin latarbelakang pendidikan dan kehidupan sosial. Faktanya adanya gerombolan ibu-ibu berbelanja di warung-warung sembako dan sayur dan pemuda-pemuda yang jogrokan ngrokok dan ngopi
tanpa mengindahkan protokol kesehatan. Maka jika hal ini dibiarkan atau kita tidak tahu manahu aliyas "terserah" kapan pandemi ini segera barakhir.
Wallohu a'lam, semoga mereka sadar bersedia bekerja sama untuk memutus rantai covid dan semoga semua selamat dari covid 19 dengan semakin meningkat iman dan taqwanya. Aamiin..

Aamiin, bagus Bu
BalasHapusTerimakasih Bund. .. Tombo isin he he
Hapusya sudah, yang penting sudah disampaikan kebenarannya...hehe
BalasHapusMbahnuwun. . Penting nulis he he
Hapussemangat menulis bunda...
BalasHapusbanyak cerita di sekitar kita yang bikin senyum senyum bila dituliskan